Photobucket

Rabu, 23 November 2011

BELAJAR DARI ULAT

BELAJAR DARI ULAT


Bagi penggemar tanaman atau yang memiliki hobi berkebun, seringkali menemukan binatang yang menjengkelkan, dimana dedaunan muda yang tumbuh segar, menjadi tak beraturan dan bolong-bolong bahkan habis dan tinggal tangkainya saja. Ternyata setelah kita perhatikan ada hewan yang biasanya berwarna hijau, sehijau dedaunan untuk kamuflase, binatang tersebut adalah ulat.

Ulat adalah salah satu binatang yang sangat rakus dalam melahap hijaunya dedaunan tanaman yang kita sayangi. Rasa marah yang sangat bila kita jumpai tanaman kesayangan kita telah habis dedaunannya, bahkan hanya tinggal ranting-ranting saja. Sedih dan marah rasanya karena usaha kita terasa terampas begitu saja karena ulah sang ulat.

Dibalik kekesalan dan rasa marah, pernahkah kita mencoba untuk melihat atau sedikit tertegun mengernyitkan dahi atas ulah sang ulat tersebut atau sebaliknya kita membunuhnya untuk melampiaskan kekesalan hati, setega itukah?

Hasil yang diakibatkan oleh ulah sang ulat memang sangat mengesankan bila dibanding dengan wujud ulat yang lemah dan lunak tubuhnya. Melihat dari akibat yang dihasilkan maka dapat kita katakan bahwa karakter ulat adalah pekerja keras dalam menggunduli dedaunan tanaman kita, seakan-akan mereka seperti dikejar deadline dan harus buru-buru untuk menyelesaikan. Hasilnya sangat mengesalkan sekali buat kita, yaitu tanaman yang gundul dalam waktu yang relatif singkat dan sekali lagi sungguh mengesankan.

Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap.

Pada masa kepompong ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah.

Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar-kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat sejenakpun untuk terus melahap dedaunan.

Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang prima. Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya.

Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga pada hewan-hewan yang mengalami musim dingin.Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap hangat dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya.

Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan dan tanggung jawab yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain-main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat melenakan.

Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan.

Di dalam masa-masa senang satu saat akan berganti menjadi masa yang sulit dan bahkan menjadi sebuah musibah karena mengintai sebuah keterlenaan. Sungguh benar hadist nabi untuk mengambil kesempatan lima sebelum lima: muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati dan senggang sebelum sibuk. Dan bukankah kita telah diwanti-wanti untuk senantiasa mempersiapkan diri dengan apa saja yang kita mampu, untuk menggentarkan hati musuh-musuh kita.

Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang meniti masa depan tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan yang matang dan kerja keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan.

Read More

Keayaan. Kesuksesan. Dan cinta

Keayaan. Kesuksesan. Dan cinta

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah,dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar.Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut. Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang? Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar. “Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk.


Kami akan menunggu sampai suami mu kembali, kata pria itu. Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.


Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama”, kata pria itu hampir bersamaan.”Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.


Salah seorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,”katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya.

Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.


Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan. Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita. “Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta. Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita.

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini. Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta.

Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. “Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga? Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.
Read More

Membentuk Takdirmu Sendiri

Membentuk Takdirmu Sendiri


Salah satu episode yang menarik dari serial Aang-Sang Avatar adalah ketika mereka mengunjungi sebuah desa kecil dimana Bibi Wu - sang peramal - tinggal. Desa yang terletak dikaki sebuah gunung berapi. Setiap orang didesa itu percaya apa yang dikatakan Bibi Wu. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ini Bibi Wu mesti meramalkan kehidupan dan nasib desa dalam satu tahun kedepan. Semua orang seisi kampung berkumpul di balairung yang terletak dilereng gunung.

Bibi Wu bilang: ”Tahun ini panen akan sukses besar.” Semua petani bersorak-sorai. Berpelukan. Dan berlompatan.

”Ini akan menjadi tahun yang bagus bagi si kembar.” Lanjutnya. Orang-orang kembar kegirangan.

Lalu Bibi Wu menatap awan yang menyelaputi gunung berapi. Dahinya mengernyit, kemudian bilang:”Tahun ini desa tidak akan hancur oleh letusan gunung berapi.” Warga desa bersorak gembira. Gunung berapi tidak meletus, pikir mereka.

Untuk sebuah alasan percintaannya, Aang menaiki puncak gunung. Untuk mengambil sekuntum bunga lili yang sangat langka. Bunga yang hanya tumbuh dipuncak gunung berapi itu. Saka menemani Aang melakukannya. Namun, ketika mereka sampai ke puncak gunung dimana mulut kawah itu berada; mereka terkejut mendapati lahar panas siap dimuntahkan kapan saja. Gunung berapi itu segera akan meletus.

”Bibi Wu salah!” kata Aang dalam keterkejutannya. Gunung akan meletus. Warga desa harus segera diungsikan. Lalu, bersama Katara dan Saka, Aang menghimpun para lelaki dewasa di desa untuk membuat parit besar dan bendungan agar lahar tidak membanjiri perkampungan. Dan ketika gunung itu meletus, desa terbebas dari kerusakan. Warga desa semuanya berbahagia.

Ketika hendak berpisah, Bibi Wu menatap Aang, dan tersenyum penuh arti. Lalu, Aang mendekat kepadanya: ”Saat kau meramalku,” katanya, ”kau tidak mengatakan yang sebenarnya; melainkan apa yang ingin aku dengarkan.” ia melanjutkan.

Bibi Wu menjawab dengan bijak: ”Akan aku katakan sebuah rahasia kecil kepadamu,” katanya. ”Sama seperti kelak kau akan bisa membentuk awan; kau mempunyai kekuatan untuk membentuk takdirmu sendiri.”

Anda tahu, bahwa Aang adalah seorang keturunan para pengendali udara. Dan bagi mereka, membentuk awan bagaikan sebuah permainan anak kecil yang mudah dan menyenangkan. Dengan demikian, pesan Bibi Wu begitu terang; ’Kau akan dengan mudah dapat membentuk takdirmu sendiri’.

Anda bukan pengendali udara seperti Aang. Bukan pengendali air seperti Katara. Bukan pengendali api seperti Pangeran Muda Zhukou. Dan bukan pula si tua nyentrik, sang pengendali tanah. Anda, dan setiap manusia di jaman modern lainnya adalah pengendali udara, pengendali air, pengendali api, dan tanah dalam waktu yang bersamaan. Teknologi memungkinkan anda untuk melakukan semuanya itu. Dengan begitu, anda adalah pengendali diri anda sendiri. Jika anda bisa mengendalikan diri sendiri, maka anda adalah seorang pengendali takdir anda sendiri. Persoalannya adalah; maukah anda mengendalikan takdir anda sendiri, atau menyerahkannya kepada orang lain?

Kitalah yang bertanggungjawab terhadap takdir kita sendiri. Namun, kebanyakan orang membiarkan pihak lain mengambil alih tanggungjawab itu. Terserah tuan, atau nyonya. Terserah atasan. Terserah teman. Dan terserah keadaan. Maaf, apakah berlebihan jika saya mengatakan bahwa; mungkin anda juga begitu. Saya tahulah…, anda tidak terima pernyataan saya yang terkahir itu. Anda tidak menyerahkan tanggungjawab kepada orang lain. Tentu saja, jika anda kira begitu. Tetapi, mari kita uji; benarkah demikian? Jika anda orang yang rajin bekerja, kemudian atasan anda bilang;”Maaf, kenaikan gajimu tahun ini hanya 1%.” Apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan terus menunjukkan kinerja tinggi anda? Atau anda melakukannya sesuai dengan ’takaran’ yang menurut pendapat anda sesuai dengan tingkat kenaikna gaji dari perusahaan? Jawaban anda akan menentukan apakah kata-kata saya yang anda protes tadi benar atau tidak.

Dalam situasi yang lain; sebenarnya anda adalah orang yang bersemangat. Tapi, ketika anda menghadapi kesulitan hidup, atau… kena PHK, misalnya. Apa reaksi anda? Anda bangkit berdiri dan terus melangkah maju, atau anda akan terpuruk? Again, jawaban anda akan menentukan benar tidaknya kata-kata saya. Jika itu benar, sudahlah, anda jangan protes lagi. Akui saja. Dan mulai sekarang, berhentilah melemparkan tanggungjawab untuk membentuk takdir anda sendiri kepada orang lain. Ambillah tangungjawab itu; dan seperti Bibi Wu bilang, ’bentuklah takdirmu sendiri’.

Kalau saya salah? Ya ndak apa-apa, toh. Saya malah senang, kalau saya yang salah. Karena selain itu menunjukkan bahwa teman-teman saya pasti akan baik-baik saja; itu juga mengindikasikan bahwa saya berada ditengah komunitas orang-orang yang berani mengambil tanggungjawab itu. Dan jika saja suatu hari nanti saya membutuhkan seseorang untuk menasihati saya. Memberi saya semangat. Untuk berani mengambil tanggungjawab terhadap diri sendiri. Berdiri tegar kala menghadapi badai kehidupan. Maka, semoga orang itu adalah anda. That’s what friends are for…., bukan begitu?



sumber: http://www.dadangkadarusman.com/


Read More

♥♫•*•.¸♥KECANTIKAN SEORANG WANITA♥♫•*•.¸♥

KECANTIKAN SEORANG WANITA

Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya

"Mengapa engkau menangis?"

"Karena aku seorang wanita", kata sang ibu kepadanya.

"Aku tidak mengerti", kata anak itu.

Ibunya hanya memeluknya dan berkata,

"Dan kau tak akan pernah mengerti"

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya,

"Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?"

"Semua wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.

Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya,

"Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?"


Tuhan berkata:

"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa.

Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "

"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "

"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "

"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "

"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "

"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya,
tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu "

"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."

Kau tahu:

"Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."
"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."
Read More

10 Cara Bangkit Dari Kesedihan

10 Cara Bangkit Dari Kesedihan

Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Penyebabnya macam-macam, bisa karena sedang patah hati, sakit secara fisik, bokek alias tidak punya uang, dan semacamnya. Pada saat-saat seperti itu, bisa jadi orang mengalami frustrasi, depresi, dan ekstremnya, mencoba bunuh diri.

Mudah-mudahan Anda tidak usah seperti itu. Coba tip di bawah ini untuk menemukan kembali semangat diri.

1. Ayunkan tubuh dan bernyanyi
Pasang musik favorit, terutama yang berirama disko atau dance. Sambil bergoyang, Anda juga bisa ikut menyanyi.

2. Tersenyum
Tersenyum bisa ‘mengakali’ otak. Maksudnya, karena otot-otot Anda memaksakan senyum, otak akan berpikir bahwa Anda sedang senang.

3. Habiskan waktu dengan orang-orang tercinta
Ada orang yang senang kongkow dengan teman-temannya, ada juga yang senang bermain dengan anak-anak kecil. Terserah yang mana pilihan Anda, yang jelas pilihan kedua amat menyenangkan. Bayangkan Anda mencubit pipi seorang bocah, menyaksikan keriangannya menjilat es krim, bermain di kolam renang, atau melakukan apa pun.
Percayalah, keriangan anak-anak akan menular pada Anda.

4. Hadiahi diri Anda sendiri
Kalau ada pekerjaan yang tidak Anda sukai, jangan ditunda. Segera kerjakan, supaya setelah itu usai, Anda bisa memberi kado bagi diri Anda sendiri. Hadiahnya tak usah mahal-mahal amat, bisa berupa memanjakan diri di spa atau salon, berendam di kamar mandi, membaca majalah atau buku, atau tak melakukan apa pun sambil mengunyah dua keping cokelat.

5. Bersihkan sekeliling Anda
Keadaan yang kacau balau memang bikin dada sesak. Karena itu, bebenahlah. Biarkan segala sesuatu berada di tempat yang seharusnya. Seni kuno Feng Shui menyebutkan bahwa mengenyahkan kekacaubalauan di suatu tempat berarti akan mengusir energi negatif dari sana. Cobalah.

6. Lakukan tindakan
Bila ada sesuatu yang membuat Anda cemas, entah itu kesehatan, pekerjaan, atau kehidupan rumah tangga, lakukan sesuatu. Jangan biarkan suatu masalah menjadi berlarut-larut, menggerogoti kebahagiaan Anda, dan ‘menikam’ apa yang seharusnya Anda peroleh.

7. Berpikir positif
Para konsultan psikologis tak akan pernah bosan menghadiahi kedua kata ini. Sebab, ujung-ujungnya, segala masalah bisa terasa lebih ringan kalau Anda selalu berusaha berpikir positif.

8. Jadi orang yang kreatif
Kalau cuma duduk melamun sambil mengeluh bahwa dunia ini tidak adil, sudah jelas dunia ini memang ‘terasa’ tidak adil. Anda tidak punya kesibukan, sih. Cari sesuatu yang menyibukkan diri, seperti mengerjakan pekerjaan tangan, memasak, berkebun, meredekorasi rumah, dan sebagainya.

9. Menulis
Banyak ahli setuju bahwa menulis dapat menghilangkan stres. Cobalah dengan menuangkan apa yang Anda alami ke dalam selembar kertas. Anda akan kaget melihat hasilnya.

10. Berolahraga
Manfaat olahraga pasti sudah Anda ketahui. Tapi, melakukannya ketika Anda sedang sedih, bisa jadi membawa kegunaan lain.
Di antaranya adalah, membuat Anda lupa masalah, dan membawa semangat baru.
Read More

17 Yang Harus Diingat

17 Yang Harus Diingat

1. Jika sudah terjadi masalah, tdk harus dihindari (bingung), tapi HARUS DIHADAPI dengan tenang (dipikirkan jalan keluarnya) dan pasti selesai ada jalan keluarnya.

2. Menghadapi semua hal, tdk boleh berpikir negatif, seperti: "saya pasti tdk mampu", "saya tdk bisa", dan seterusnya. Tapi selalu berpikir positif, seperti: "saya bisa, pasti ada jalan keluarnya" dan lain lain.

3. Sudah dan senang semuanya tergantung pikiran saja!! ( Pikiran adalah pelopor!!). Jadi jaga pikiran kita baik - baik. Jangan pikir yang jelek/negatif. Selalu berpikir yang positif (baik).

4. Segala kesulitan/kesusahan akan berakhir. sebesar apapun masalahnya akan selesai juga dengan berjalannya waktu. Seperti pepatah mengatakan : TIDAK ADA PESTA YANG TIDAK BERAKHIR.

5. Orang yg sukses 85% ditentukan dari sikap/prilaku, 15% baru ditentukan ketrampilan. Jadi sikap kita dalam hidup ini sangat penting.

6. Segala sesuatu berubah (anicca). Kita tdk perlu susah. Misalnya : sekarang susahnya, selanjutnya pasti berubah menjadi senang. sekarang ada orang yang tdk senang pada kita, suatu saat nanti akan baik juga.

7. Hukum karma, berarti berbuat baik akan mendapat hasil baik dan sebaliknya, seperti tanam padi, pasti panen padi. Ingat!! Usahakan setiap saat selalu berbuat (tanam) kebaikan agar mendapatkan (panen) kebaikan. Jgn melakukan kejahatan. Dan jgn berharap mendapat balasan dari perbuatan baik kita!!!

8. Kesehatan adalah paling nomor satu (berhaga). Jaga kesehatan kita dengan olahraga, istirahat yang cukup dan jangan makan sembarangan.

9. Hidup ini penuh dengan masalah/persoalan/penderitaan. Jadi kita sdh tahu TIDAK MUNGKIN SELALU LANCAR/TENANG. Siapkan mental, tabah, sabar dan tenaga untuk menghadapinya. itulah kenyataan hidup yang harus dihadapi oleh setiap manusia.

10. Masa depan seseorang sangat tergantung pada sikap dan buku buku yang dibaca. Jadi membaca sangat penting dan menentukan masa depan seseorang.

11. Jangan membicarakan kejelekan orang lain, karena kita akan dinilai jelek oleh orang yg mendengarkannya.

12. Pergaulan sangat penting dan merupakan salah satu kunci sukses. Boleh bergaul dengan orang jahat maupun baik asal kita HARUS TAHU DIRI/JANGAN TERPENGARUH LINGKUNGAN. Lebih baik lagi apabila kita bisa menuntun yang jahat ke jalan yang benar.

13. Budi orang tua, tidak dapat dibayar dengan apapun juga. begitu juga dengan
budi orang2 yang telah membantu kita.

14. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi jangan minder dengan kekurangan kita. dan jangan iri dengan kelebihan orang. HARGAILAH DIRIMU APA ADANYA!!!\

15. JANGAN MEMPERTENTANGKAN (MEMPERDEBATKAN) hal hal kecil yang tdk berguna
dengan siapapun juga.

16. Kunci sukses dlm hidup ini, selalu bersemangat, berusaha, disiplin, sabar, bekerja keras, rajin berdoa/sembahyang, banyak berbuat baik serta tdk blh berputus asa.

17. Jangan Menilai orang dari Harta(kekayaan), penampilan ataupun kondisi fisik. Semua orang itu SAMA!!!
Read More

SEBATANG BAMBU

SEBATANG BAMBU


Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?”

Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”

Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur.”

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kpd petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”

Petani menjawab, ” Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”

Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sarat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa.

Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ” Inilah aku, Tuhan…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”
Read More

Sebab Cinta

Sebab Cinta

Demi cinta... bersandinglah, Dalam sisi hidupku ini
Demi cinta... berjanjilah, Melangkah kita bersama
(Padi)


Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis kota , sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di wajah wanita pengamen itu.

Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkan pernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bis lainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota . Yang ia tahu hanyalah, terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan,asap knalpot, aroma bis kota , tatapan iba, dan juga makian penumpang yang terganggu oleh hingar musik ibunya. Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.

Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang, Banten. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih tiga tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman aroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar; penjual dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani pembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.

Anak pasar itu -kalau boleh disebut begitu- tak pernah tahu sebab apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah-tengah tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan melihat transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar becek lah yang kerap mengakrabinya.

Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di Bogor naik turun KRL (kereta api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah mengerti itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela menanggung malu mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah bertanya, “beratkah ibu menggendong saya?”

Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki saat terlahir ke dunia ini. Anak itu, tak pernah memahami kenapa di setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Sikecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan bahagia. Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi sekeping receh yang diharapnya.

***

Anak-anak itu, memang belum akan mengerti sebab apa ibunya mengejar bis kota , mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah jauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasa kalbu ibu berkata, “sebab cinta, ibu melakukan semua ini nak”.

Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa” dalam kamus hidup seorang ibu.
Read More

Kisah Karpet

Kisah Karpet

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik.

Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.

Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak.

Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya
"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming). Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi
Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
Untuk dst...
Read More

CANGKIR YG CANTIK

CANGKIR YG CANTIK

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu,” kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”.

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi
orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Renungan :

Seperti inilah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.

“Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk Anda.
Read More

Senin, 21 November 2011

Senyumku di Pagi hari

SENYUMKU DI PAGI HARI

Sepuluh menit berlalu. Menunggu memang hal yang menjemukan. Janji datang tepat waktu tak pernah ditepatinya. Ada saja alasan untuk membela diri. Bodohnya, aku selalu menjadi si ‘ontime’ (aku rasa itu kebiasaan yang baik). Aku berusaha mengusir kebosananku menunggu dengan mengamati orang-orang yang berada di restoran, tempatku berada kini. Kutatap semua orang yang berada direstoran ini dengan penuh rasa hampa dan memikirkan apa yang sedang mereka kerjakan atau pikirkan. Seringkali pula kutersenyum sendiri memandang rautan yang terlukiskan diwajah mereka. Memikirkan apa yang akan terjadi dan yang telah terjadi membuat waktuku benar-benar terasa hampa.

Hmm… mengamati orang lain adalah hal yang menurutku mengasyikkan. Dari tempatku, aku bisa melihat bagaimana para pelayan berusaha menjamu para pelanggan dengan sebaik mungkin. Memberikan senyum termanisnya, bertutur kata penuh kelembutan dan bersikap sopan. Para pelayan itu bersliweran dimana-mana di dalam restoran ini. Kulihat juga seorang pemuda yang tengah bercakap-cakap dengan teman wanitanya. Sesekali mereka berdua tertawa lepas. Serasa mereka hanya berdua di restoran ini. Di sudut lain kulihat bapak paruh baya tengah membaca koran pagi ini. Sesekali ia membenarkan posisi kacamatanya dan menyeruput minuman pesanannya.

Aku sendiri merasakan kepuasan tersendiri melakukan hal ini. Mengamati orang lain. Dalam hati aku mengucap syukur akan indahnya karunia-Nya padaku. Aku telah diberikan mata yang sempurna sehingga aku mampu melihat pemandangan pagi di restoran ini. Hal kecil yang jarang sekali orang memikirkan hal itu, namun banyak sekali hikmah dari semua itu.

Tiga puluh menit pun berlalu tanpa aku sadari. Kucoba menghubungi orang yang sedang kutunggu. Tidak ada jawaban. Tidak diangkat. Ingin marah rasanya. Tapi aku langsung menahan amarahku. Ini hari yang indah. Tidak mungkin aku memulai hari dengan kejengkelan dihati hanya karena orang yang membuat janji padaku tak dapat menepati janjinya padaku.

Tak lama handphoneku berdering. Ternyata orang yang sejak tadi kutunggu mengirimkan pesan untukku. Aku membacanya. Rupanya ia punya alasan mengapa ia tidak bisa datang untuk menemuiku disini. Alasan yang cukup membuatku menerima alasannya. Ia harus mengantar ibunya ke rumah sakit. Aku membalas pesannya untuk mengatakan bahwa aku memakluminya.

Aku beranjak dari tempat dudukku setelah aku membayar pesananku. Aku berjalan menuju halte yang tepat berada di seberang restoran. Aku berusaha mengembangkan senyum termanisku. Aku siap untuk untuk memulai hari ini.

Kawan, seandainya saja semua orang mampu mengambil hikmah yang tersembunyi dari hal-hal yang sepele yang setiap hari kita temui, mungkin hidup ini takkan pernah menjadi beban. Seandainya kita mampu menerima setiap hal yang menyebalkan atau hal yang buruk sekalipun dengan sunggingan senyum dan keikhlasan, mungkin akan tenang hati ini.

Mulailah hari dengan senyuman dan besar hati dalam menerima setiap kemungkinan dalam setiap episode kehidupan.
Read More

Pelajaran

Dalam hitungan detik saya menerobos masuk, langsung ke ruang tamu dan bersembunyi di balik pintu. Sementara sekelompok anak berseragam putih abu-abu itu berhenti tepat di depan pintu. Cuma dua meter dari tempat saya. Wajah mereka penuh kemarahan. Saya menahan nafas dalam-dalam. Jantung berdegup kencang. Jika mereka menemukan saya, habislah sudah.

Cukup lama saya berada di balik pintu itu. Naluri saya melarang untuk keluar dari persembunyian walau sekelompok pelajar itu telah berlalu. Dari balik pintu saya masih mendengar suara mereka bertanya ke sana ke mari. Sesekali ada yang melintas di depan rumah sembari berlari. Mereka kehilangan jejak karena saya tiba-tiba raib.


Dalam situasi seperti itu, ibu pemilik rumah tiba-tiba muncul. Dia terkejut melihat saya sudah berada di ruang tamu rumahnya. Matanya penuh tanda tanya. Sebelum terjadi salah paham, kepadanya saya meminta maaf karena masuk ke rumahnya tanpa permisi. Dengan suara pelan saya menceritakan bahwa saya sedang dikejar-kejar sekelompok siswa sekolah lain. Sekolah saya dan sekolah mereka terlibat tawuran.

Di luar dugaan saya, sang ibu malah mempersilakan saya masuk ke salah satu kamar. “Lebih aman sembunyi di dalam kamar sana. Kalau di sini bisa ketahuan,” ujarnya. Ada perasaan tidak enak. Kamar tentu wilayah privat. Apalagi untuk tamu asing seperti saya. Tapi, ketakutan mengalahkan perasaan tidak nyaman. Saya lalu bersembunyi di kamar yang ditunjuk.

Tak lama kemudian rombongan siswa berseragam abu-abu itu muncul lagi. Kepada sang ibu mereka bertanya apa melihat ada orang dengan ciri-ciri seperti saya lewat di sekitar situ? Lamat-lamat saya mendengar sang ibu mengatakan dia sama sekali tidak melihat ada yang lewat. Ibu itu melindungi saya.

Untuk sekian lama saya berada di kamar hingga kemudian ibu pemilik rumah muncul membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk. Lengkap dengan segelas air putih. Dia menyuruh saya makan dan meminta saya tetap di kamar karena rombongan anak-anak yang mengejar saya masih bergerombol tidak jauh dari rumahnya.

Melihat hidangan yang disajikan, ingatan saya kembali pada apa yang saya perbuat beberapa waktu lalu. Rumah tempat saya bersembunyi ini letaknya tidak jauh dari beberapa sekolah yang ada di kawasan Dok V, Jayapura. Di situ ada sebuah SMA, STM, dan SMP. Melihat peluang bisnis, pemilik rumah, ibu yang baru saja menyelamatkan saya, membuka warung makanan. Bagian samping rumahnya dia jadikan warung, tempat anak-anak yang bersekolah di sekitar situ bisa menyantap mie bakso dan jajanan lain.

Saya masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Teknik (setingkat SMP). Sekolah saya letaknya di Dok VII, sekitar satu kilometer dari lokasi warung. Tapi biasanya sepulang sekolah saya dan teman-teman mampir dulu ke warung itu. Kami biasa kumpul-kumpul di sana.

Kalau bangku di depan warung sudah penuh, ibu pemilik warung mempersilakan para pembeli duduk di dalam, di ruang makan keluarga mereka. Nah, situasi inilah yang sering saya dan teman-teman manfaatkan. Kebaikan ibu pemilik warung tersebut kami salah gunakan.

Kalau makan di warung itu, saya dan teman-teman sengaja memilih duduk di ruang makan. Jika pemilik warung lengah, salah satu dari kami segera membuka lemari makan dan mencuri lauk-pauk yang ada di dalamnya. Kadang tempe, empal, ikan goreng, kerupuk atau ayam goreng. Lauk-pauk ini tentu tidak dijual karena untuk konsumsi keluarga pemilik warung. Isi lemari inilah yang menjadi sasaran kami. Enak dan gratis. Pernah sekali kami kepergok. Tapi ibu itu diam saja. Tidak marah. Tidak pula meminta bayaran.

Kini, di ruangan yang tidak terlalu luas itu, di kamar pemilik rumah yang juga pemilik warung yang makanannya sering kami curi, saya mendapat perlindungan. Ibu itulah yang menolong saya. Dia menyembunyikan saya dari kejaran anak-anak SMA. Jika saja dia dendam atas perbuatan saya mencuri makanan di lemari makannya dulu, tentu dia tidak akan sudi menolong saya. Apalagi melindungi.

Sembari menyantap makanan di piring (makanan yang hampir sama dengan yang sering saya curi), perasaan sesak memenuhi rongga dada. “Tuhan, hari ini Engkau menunjukkan kepadaku pelajaran yang luar biasa dalam hidup. Bagaimana orang yang sering saya rugikan, bukannya membenci saya bahkan sebaliknya menyelamatkan saya”.

Peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu itu hingga kini terus membekas dalam ingatan. Sampai saat ini saya terus belajar dari kearifan sang ibu tersebut. Belajar bagaimana membalas perlakuan jahat orang dengan perbuatan baik. Tidak mudah, memang. Tetapi dengan begitu saya merasakan hidup menjadi lebih berarti.



sumber : http://www.kickandy.com

Read More

surat untuk sahabat

SURAT UNTUK SHABAT

“Sobat!”
Aku mulai bimbang untuk sekedar mencoretkan pena pada lembaran kertas kumal. Terasa begitu berat hanya untuk mengungkapkan secuil kata. Masih teringat semuanya, saat gelap menyelimuti lereng gunung. Perapian kian redup seiring hembusan angin dingin menusuk. Kabut putih menyebar memenuhi langit, di dasar jurang terhampar warna kelam. Daun kering melayang perlahan menghampiri seonggok bunga edellweis yang menyambutnya dengan kegembiraan sesungguhnya, seperti pelukan sahabat lama, kembali membawa canda setelah menghilang bertahun dalam pertikaian panas mentari.

“Sobat!”
Dengan serangkai kata itu aku selalu memanggilmu, tanpa ada perasaan merendahkan.
Saat perapian benar-benar padam, keremangan menjadi penerang. Redup nyala lentera berusaha menerangi terjalnya dinding batu. Bau wangi tanah gunung menyeruak masuk ke dalam tenda, dengan khidmat menyimak khayalan yang ada di dalam kepalaku.


“Sobat!”
Segalanya berawal begitu saja, tanpa kebohongan dan rekayasa. Sudah terbukti, udara dingin menyajikan titik embun ketika pagi menjelang, kabarkan berita malam yang harus segera berakhir. Tapi aku juga tidak tahu seandainya semua itu sebuah kebohongan yang direkayasa.


“Sudahlah….”
Toh batu di sana msih terus mendengar, perasaan menjadi lega meski tidak sepatah kata diucapkanya. Mungkin aku sudah gila berharap pada batu untuk bersuara, berkata, atau memaki. Kepercayaan pada kalimat dari rangkaian kata mulai kacau saat keraguan tunjukan jati diri. Dia muncul begitu saja bercerita panjang tentang keyakinan, mendongeng cerita usang. Kemudian pergi begitu saja, dilain waktu dating kembali mengajarkan senyum tanpa makna. Hentakan ranting jatuh membuat aku tersadar untuk bertanya.


“Senyum memiliki susunan sederhana.”


“Mengapa harus dicari di sini?”


Yang jelas aku harus selalu mencari, ke ujung dunia sekalipun. Lama aku terdiam menanti, tenda robek semakin kotor oleh ulah debu yang hendak menumpang tidur.


“Jujur..?”


“Tidakkah kamu tahu?”


“Aku selalu berbohong, berusaha terus menghindar.”


Pasti ada sebuah alasan untuk berkata tidak jujur. Senyum pergi begitu saja tanpa menoleh, batu terpekur mendengarkan cerita pengantar tidur yang bagiku tidak lebih dari pengganggu tidur. Mungkin batu bosan untuk mendengarkan tapi tidak tega untuk mengatakanya.
Aku terdiam, tidak peduli senyum datang kembali, bukan karena kesombongan telah menguasai, bukan karena congkak mengancam. Sudah tidak ada lagi perkataan, tidak tersisa sedikitpun kemampuan bicara, habis ditelan pergolakan tanpa kepedulian, tenggelam terendam ketakutan merangkai sebuah makna. Bahkan takut bertemu manusia, jenuh dengan kepulan bualan membumbung, jengah dengan kepedulian yang selalu memihak. Terlihat mereka memikul ancaman, mengacungkan belati dendam, siapa membantai kosong tatapanku.


“Sobat!”
Terkenang kembali masa kecil, pikiran menerawang terbang tinggi kemudian hinggap melepas lelah di atas rumah tua. Memandang sekeliling semua terlihat sunyi, suara binatang malam memanggil syahdu. Aku duduk, kepala terasa pusing. Bumi tempat berpijak berputar semakin pelan seolah menanti teman yang tertinggal jauh.

Lampu lentera blingsatan, bergoyang mengikuti irama angin yang mampir mengabarkan berita indah dari puncak malam. Asap bergerak perlahan, menyapa gerombolan nyamuk berparade, suara cicak berbisik, mengendap-endap dalam kegelapan. Di luar bulan tersenyum dengan malu, menunduk, menghamparkan cahaya sejuk di atas daun pinus dalam baying keremangan.
Perlahan angin dating membawa selimut gelap pencipta impian.

“Sobat!”
Di sinilah semua berawal, menempuh hidup dengan jutaan suara sendu. Cemara berteriak kegirangan, bersimpuh memandang dingin, menjanjikan sajak-sajak pelukan.


”Sobat!”
Aku tetap di sini, menanti angin kembali berhembus.
Read More

Rabu, 09 November 2011

Aku menangis untuk adikku

Aku menangis untuk adikku

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demihari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung merekamenghadap ke langit.Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.


Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laciayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.:

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa punmengaku, jadi Beliau mengatakan :

"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!".
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikkumencengkeram tangannya dan berkata :
"Ayah, aku yang melakukannya! ".
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitumarahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisannafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami danmemarahi,:


"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yangakan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati!Kamu pencuri tidak tahu malu!".
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuhdengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahanmalam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutupmulutku dengan tangan kecilnya dan berkata :
"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanianuntuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masihkelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikkuketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk keSMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk kesebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman,menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnyamemberengut :"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitubaik..."
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas. Sambil berkata :


"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?".
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata :
"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyakbuku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya sambil berkata :
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?. Bahkan jikaberarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berduasampai selesai!".


Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjamuang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yangmembengkak, dan berkata :
"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidakakan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.".


Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan keuniversitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikkumeninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacangyang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkansecarik kertas di atas bantalku:


"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja danmengirimu uang.".
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan airmata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun.Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yangadikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi,aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, akusedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan :


" Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !".
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, danmelihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen danpasir. Aku menanyakannya, :
"Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan merekapikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akanmenertawakanmu? "
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debudari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku :


"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamuadalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..".
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Iamemakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan :
"Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harusmemiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalampelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.


Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telahdiganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, akumenari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskanbegitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambiltersenyum :
"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkahkamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendelabaru itu..".
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratusjarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya danmebalut lukanya.aku bertanya :
"Apakah itu sakit?".

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi,batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidakmenghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun kewajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.


Ketika aku menikah, aku tinggal di kota . Banyak kali suamiku dan akumengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi merekatidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidakakan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan :
"Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."


Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkanpekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikkumenolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerjareparasi.


Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel,ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan akupergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu :
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harusmelakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yangbegitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"


Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. :
"Pikirkan kakak ipar...ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidakberpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apayang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yangsepatah-sepatah:
"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu,ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani daridusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanyakepadanya :
"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?".
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab :
"Kakakku."


Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidakdapat kuingat :
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiaphari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah danpulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja danberjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetarankarena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjagakakakku dan baik kepadanya."


Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannyakepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku akhirnya keluar juga :
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaanini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Read More