SURAT UNTUK SHABAT
“Sobat!”
Aku mulai bimbang untuk sekedar mencoretkan pena pada lembaran kertas kumal. Terasa begitu berat hanya untuk mengungkapkan secuil kata. Masih teringat semuanya, saat gelap menyelimuti lereng gunung. Perapian kian redup seiring hembusan angin dingin menusuk. Kabut putih menyebar memenuhi langit, di dasar jurang terhampar warna kelam. Daun kering melayang perlahan menghampiri seonggok bunga edellweis yang menyambutnya dengan kegembiraan sesungguhnya, seperti pelukan sahabat lama, kembali membawa canda setelah menghilang bertahun dalam pertikaian panas mentari.
“Sobat!”
Dengan serangkai kata itu aku selalu memanggilmu, tanpa ada perasaan merendahkan.
Saat perapian benar-benar padam, keremangan menjadi penerang. Redup nyala lentera berusaha menerangi terjalnya dinding batu. Bau wangi tanah gunung menyeruak masuk ke dalam tenda, dengan khidmat menyimak khayalan yang ada di dalam kepalaku.
“Sobat!”
Segalanya berawal begitu saja, tanpa kebohongan dan rekayasa. Sudah terbukti, udara dingin menyajikan titik embun ketika pagi menjelang, kabarkan berita malam yang harus segera berakhir. Tapi aku juga tidak tahu seandainya semua itu sebuah kebohongan yang direkayasa.
“Sudahlah….”
Toh batu di sana msih terus mendengar, perasaan menjadi lega meski tidak sepatah kata diucapkanya. Mungkin aku sudah gila berharap pada batu untuk bersuara, berkata, atau memaki. Kepercayaan pada kalimat dari rangkaian kata mulai kacau saat keraguan tunjukan jati diri. Dia muncul begitu saja bercerita panjang tentang keyakinan, mendongeng cerita usang. Kemudian pergi begitu saja, dilain waktu dating kembali mengajarkan senyum tanpa makna. Hentakan ranting jatuh membuat aku tersadar untuk bertanya.
“Senyum memiliki susunan sederhana.”
“Mengapa harus dicari di sini?”
Yang jelas aku harus selalu mencari, ke ujung dunia sekalipun. Lama aku terdiam menanti, tenda robek semakin kotor oleh ulah debu yang hendak menumpang tidur.
“Jujur..?”
“Tidakkah kamu tahu?”
“Aku selalu berbohong, berusaha terus menghindar.”
Pasti ada sebuah alasan untuk berkata tidak jujur. Senyum pergi begitu saja tanpa menoleh, batu terpekur mendengarkan cerita pengantar tidur yang bagiku tidak lebih dari pengganggu tidur. Mungkin batu bosan untuk mendengarkan tapi tidak tega untuk mengatakanya.
Aku terdiam, tidak peduli senyum datang kembali, bukan karena kesombongan telah menguasai, bukan karena congkak mengancam. Sudah tidak ada lagi perkataan, tidak tersisa sedikitpun kemampuan bicara, habis ditelan pergolakan tanpa kepedulian, tenggelam terendam ketakutan merangkai sebuah makna. Bahkan takut bertemu manusia, jenuh dengan kepulan bualan membumbung, jengah dengan kepedulian yang selalu memihak. Terlihat mereka memikul ancaman, mengacungkan belati dendam, siapa membantai kosong tatapanku.
“Sobat!”
Terkenang kembali masa kecil, pikiran menerawang terbang tinggi kemudian hinggap melepas lelah di atas rumah tua. Memandang sekeliling semua terlihat sunyi, suara binatang malam memanggil syahdu. Aku duduk, kepala terasa pusing. Bumi tempat berpijak berputar semakin pelan seolah menanti teman yang tertinggal jauh.
Lampu lentera blingsatan, bergoyang mengikuti irama angin yang mampir mengabarkan berita indah dari puncak malam. Asap bergerak perlahan, menyapa gerombolan nyamuk berparade, suara cicak berbisik, mengendap-endap dalam kegelapan. Di luar bulan tersenyum dengan malu, menunduk, menghamparkan cahaya sejuk di atas daun pinus dalam baying keremangan. Perlahan angin dating membawa selimut gelap pencipta impian.
“Sobat!”
Di sinilah semua berawal, menempuh hidup dengan jutaan suara sendu. Cemara berteriak kegirangan, bersimpuh memandang dingin, menjanjikan sajak-sajak pelukan.
”Sobat!”
Aku tetap di sini, menanti angin kembali berhembus.





0 komentar
Posting Komentar